Sebuah tulisan yang ku buat dengan kelegaan diri dan keangkuhan hati! Hanya sekedar menghilangkan kepenatan yang menumpuk di jiwa sambil mengusir seonggok kesedihan … aku mengeluh sejenak “Aku lelah..” pikirku dalam otak besarku. Bukan lelah karena menulis dilemma yang ku lewati hari ini, namun aku lelah menghadapinya!
Ku helakan nafas beratku, agar berkurang beban pikiranku yang sejak tadi menggerayangi ku! Aku menengadahkan mata menatap langit hitam, yang masih dihiasi Elektra dan sang rembulan, berharap mendapat kesenangan mata di ujung gelap sana. Aku terpana sejenak “Indah nian, lukisan Sang Maha Karya…” kataku hampir tak bersuara. Lalu, ku berpikir seperti apa dulu Tuhan menciptakan ini, hingga sampai ke takdirku saat ini! Dia telah membuat sedemikian rupa dan dituliskan dengan tinta keagungan, agar suatu saat bisa Ia ubah sekehendak-Nya.
Sketika itu, pikiranku tertuju pada sebuah bayangan akan dendamku pada orang yang tlah mencabik, mengoyak, dan mencincang hatiku serta harga diriku! Sangar mataku menerawang jauh peristiwa itu! Apa lagi yang harus aku lakukan, hah? Apa aku tetap harus mendendam atau aku harus membalasnya agar ia tau bagaimana rasanya dicabik, dikoyak , dan dicincang hatinya serta harga dirinya!!! Bak terhimpit batu besar didadaku saat harus mengingat peristiwa itu, mungkin sebab ia tak pernah tau betapa sakitnya aku!
Berusaha aku enyah kan keegoanku yang memuncak dikepalaku…! Tapi aku tak bisa! Logika sudah tak berfungsi dengan baik! Rasa nanar menggeluti kepalaku… ingin ku obrak-abrik rasa itu, agar aku tak merasakan sakitnya! Namun suara hati itu terlalu nyaring di indera pendengaranku, hingga aku hanya bisa membangun benteng keimanan, agar tak mudah tergoyahkan begitu saja.
Berjam2 sudah aku berusaha melewatinya… sedikit lega rasanya, tapi masih saja ia bersemayam dipikiranku! “Bunda, aku lelah..” keluhku dalam hati. Ingin rasanya aku tusukan belati ini ke jantung, agar terhenti semuanya disini. Biar aku tertidur dalam sebuah keabadianku, ditengahnya malam ini, diantara kesendirianku, agar tak ada lagi kepedihan itu…
Malam semakin larut, hampir2 subuh menjelang, ku benamkan kepalaku diantara guling dan bantal, aku tertidur pulas. Pagi ini, ketika surya menampakan cahayanya, berharap ku gapai hari terangku. Kuhirup udara yang sama denganmu, masih sedikit sesak kurasa, mungkin ada sisa semalam.
Tiba2 saja ketukan pintu itu memecah kesunyian dikamarku, ku buka daun pintu, serawut wajah yang ku rindukan berdiri tepat didepanku.
12.00 siang. Ia terdiam di sampingku dalam keheningan tanpa berucap sedikitpun. Ya! Dia yang selama ini kuanggap “malaikat” yang telah dikirimkan oleh Sang Khalik untuk menemaniku, menegaskan inilah sebuah takdirku yang wajib ku jalani… Ia merupakan anugerah yang telah ditaburi oleh Tuhan semesta alam ditahun 1428 Hijriyah ini. Aku terlalu sering bergantung dengannya, hingga aku lupa seburuk apa dia!!!
Yah! Aku jatuh cinta padanya, hingga aku lupa rasanya patah hati dulu…! Aku terlalu sering kelihatan bodoh didepannya, terlalu memuji dia, hingga ku tak mau melepas genggaman perasaannya padaku yang hanya dia anggap sebagai teman! Aku selalu ingin menggenggamnya dan merubahnya menjadi cinta kepadaku. Perbuatan bodoh, bukan?
Aku tak pernah bosan berada disampingnya dalam pembicaraan yang bahkan sangat membosankan atau bahkan dalam keheningan lalu hanya hati kita berdua yang berkecamuk dengan hayalan yang masing2 ciptakan sendiri!
Jenuh kurasakan dengan keadaan ini, tapi aku menikmatinya! Karena inilah yang kuanggap sebagai suatu kesenangan jiwa dan kuharap dia bisa berubah seperti yang ku inginkan, tapi aku tak kan memaksakan cintaku sebab aku takut melukainya.. karena itu terlalu pedih! Mungkin aku terlalu egois!
Sebab kurasa ia selalu bisa membaca mendung yang menutupi pancaran wajahku, yang terdiam mendura…Ia akan berbicara dengan hatinya untuk mengusir mendungku dan kan kembalikan semua cahaya itu.
Ini pekerjaan hati yang benar2 sulit kurasa, tuk menata hati! Sebab, aku sendiri tak bisa mengekang perasaan ini, hingga ku merasa, aku telah kau penjarakan dengan angan tentangmu, hingga pula aku tak pernah berkesempatan tuk memilih yang lain. Beri tau aku! Apa yang harus aku lakukan, hah? Apa?
Sorot matanya mempertegas bahwa hatinya bukan milikku! Bukan miliknya lagi! Dan ku mohon sebagai seorang hamba pada Sang Khalik, hijrahkanlah aku dari sini, agar aku bisa menata hatiku, pikiranku, dan perasaanku! Kumohon!
1 minggu kemudian…
Bak langit runtuh tepat diatas kepalaku! Aku harus menerima sebuah kenyataan yang pahit! Aku tak diperkenankan tuk hijrah dari sini, dan aku harus tetap mempekerjakan kembali hatiku tuk pekerjaan hati ini,lalu mempersiapkan diri dan hatiku tuk menghadapi patah hati suatu saat nanti atau tuk menghadapinya sehari2! Ini amat sangat sulit kuterima keputusan Sang Khalik! Mungkin Engkau tak menginginkan aku tak lari dari masalah ini!
Kerinduan ini seperti momok yang menakutkan bagiku, tapi aku menikmatinya! Virus cinta ini benar-benar membuatku terkena sindromnya. Sekali lagi ku tanyakan padamu, apa yang harus aku lakukan, hah?
Tlah berhari-hari aku menangisi perih keadaanku! Aku hanya bisa menangis menyesali, mengapa aku tidak di ijinkan Sang Khalik untuk hijrah saja dari sini! Menghindari Dia!!! Hingga bengkak sudah kantung mataku, masih sisa semalam!
Aku benar-benar ingin pergi sejauh mungkin… Aku hanya tak sanggup berbuat apa2 di depannya, bahkan berkatapun masih kelu bibir ini. Ku mohon bantulah aku!!! Apakah aku harus mati saja dengan meminum racun jingga ini???? Ataukah aku harus menusukan belati kejantung ku ini, hah???
Aku mencintaimu dengan sangat sederhana tanpa ada sebuah alasan yang tepat, hanya ada 1 alasan.
Oh Tuhan, aku mohon dengan sangat! Hijrahkanlah aku dari tempat ini… AKU MOHON SEKALI LAGI!!!
It's ME
- eZy
- BAIK BANGET, cool, diam, pendengar yg baik, SANGUINE, kesan pertama begitu jutek,selanjutnya terserah anda
Arsip Blog
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar